JMSI Serukan Pers Asia Bangun Narasi Otentik di Era AI

Fernandes Tampubolon

Editor Fernandes Tampubolon

Rabu, 15 Juli 2026 | 11:39 WIB

IMG-20260714-WA0145

IMG-20260714-WA0145

​KUNMING — Masyarakat pers Asia perlu membangun narasi kawasan yang kuat dan otentik di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal ini ditekankan Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, dalam pertemuan meja bundar media Asia di Kunming, Yunnan, Selasa (14/7/2026).

​Delegasi Indonesia yang hadir meliputi Mursyid Sonsang, Yophiandi Kurniawan, Ahmad Novriwan, Julius Marulitua Sinaga, serta Farida Farhah.

​Dalam forum bertema "Bagaimana Membentuk Narasi Asia di Era Kecerdasan Buatan" tersebut, Teguh menyoroti keterikatan sejarah antara Indonesia dan Yunnan sebagai jalur migrasi leluhur. Ia pun merujuk sosok Laksamana Cheng Ho sebagai simbol diplomasi dan persahabatan yang relevan hingga kini.

​Mengurasi Narasi dengan Nilai Lokal

Teguh memperingatkan bahwa AI berisiko mengaburkan perspektif regional karena algoritmanya sering kali berstandar nilai tertentu. "Narasi Asia harus dikurasi secara proaktif. Kita harus menyematkan etika AI, nuansa nilai-nilai budaya lokal, serta realitas pembangunan regional ke dalam sistem digital," ujarnya.

​Ia menegaskan, media harus menjadi garda terdepan penjaga kebenaran dengan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab untuk melawan disinformasi.

​Prioritas Kolaborasi

Teguh menyoroti pentingnya kolaborasi dalam pembangunan, keberlanjutan lingkungan, dan stabilitas kawasan. Menurutnya, media memiliki kekuatan besar untuk meredam konflik.

​"Perdamaian bukan kondisi yang terjadi dengan sendirinya, melainkan harus dicapai melalui dialog terbuka," tegasnya.

​Teguh menutup dengan ajakan agar pers Asia merangkul teknologi dengan syarat dan ketentuan sendiri. Tujuannya agar identitas regional tidak hilang tergerus mesin, melainkan tetap berpijak pada fondasi transparansi, integritas, dan nilai kemanusiaan bersama.(**)

BP batam