BATAM, kabarkepri.co.id ] - Sekda Kota Batam, Firmansyah, membuka Sosialisasi Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) di Kantor Wali Kota Batam, Selasa (5/5).
Firmansyah jelaskan, Batam termasuk daerah di Kepri yang punya banyak potensi bencana. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana 2025, potensi itu meliputi banjir, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, hingga tanah longsor.
Posisi Batam yang strategis, di jalur perdagangan internasional, sangat mendukung pertumbuhan ekonomi. Tapi potensi bencana alam maupun nonalam bisa jadi penghambat aktivitas masyarakat.
“Menyikapi risiko tinggi, Batam butuh RPBD yang komprehensif. Penyusunannya harus libatkan semua pihak dan terintegrasi dengan RPJMD,” ujar Firmansyah.
Ia tegaskan, RPBD harus jadi bagian perencanaan pembangunan daerah yang terpadu dan terkoordinasi. Dokumen ini jadi dasar tingkatkan kinerja antarinstansi dan perkuat sistem penanggulangan bencana.
RPBD juga harus jawab persoalan di setiap fase bencana, rangkum perspektif semua perangkat daerah, dan mengacu pada Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
“RPBD harus muat visi, misi, kebijakan, program, dan fokus prioritas daerah. Semua ditetapkan bersama sebagai komitmen daerah,” jelasnya.
Karena itu, keterlibatan OPD jadi syarat utama. Firmansyah juga ingatkan pentingnya landasan hukum agar RPBD kuat saat diterapkan sebagai rencana induk lima tahun ke depan.
Ia minta kolaborasi lintas sektor karena bencana tidak kenal batas wilayah atau kewenangan dinas. “Saya minta seluruh OPD sajikan data akurat dan masukan substantif,” tegasnya.
Penyusunan RPBD juga harus akomodasi perkembangan teknologi informasi dan kearifan lokal, terutama sistem peringatan dini dan mitigasi. “Pastikan dokumen ini bisa diterapkan di lapangan, bukan sekadar arsip,” ujarnya.
Sosialisasi diikuti sekitar 80 peserta dari DPRD, pemerintah, akademisi, dunia usaha, jurnalis, dan lembaga masyarakat. Hadir narasumber dari BNPB, IPB, dan Universitas Negeri.(**)

